English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
Home » » Penangkaran burung puter

Penangkaran burung puter

Written By Muhamad Soleh on Rabu, 12 Juni 2013 | 01.56

Burung dari sebangsa merpati-merpatian ini, jika di Jogja dan sekitarnya ini disebut puter lumut sedangkan secara umum disebut dederuk jawa. Ciri-ciri fisiknya mirip dengan puter jawa (streptopelia risoria),  tetapi warna bulu kepala sampai ekor  berwarna abu-abu tua agak kecoklatan. Sedangkan bagian dada berwarna merah bata atau merah keabu-abuan (tergantung habitatnya). Burung ini mempunyai kebiasaan hidup seperti burung tekukur. Hidup dalam kelompok kecil (2-6 ekor). Mencari makan di padang rumput, sawah atau tanah lapang lainnya.  Makanan utamanya berupa biji rumput-rumputan, gabah atau jagung. Membuat sarang di pelepah kelapa, atau celah antara dahan yang besar. Mempunyai suara yang nyaring. Kruk kruuuuk kruk. Kruuk kruuuuk kruk

Senasib dengan burung-burung lain di Indonesia, burung ini banyak diburu dengan cara dijaring atau dengan perangkap lain untuk dijadikan burung peliharaan. Juga menjadi sasaran penembakan para pemburu. Alhasil, populasi burung ini semakin hari semakin sedikit. Di alam liar, burung ini nyaris tak pernah terdengar suaranya lagi. Karena  dianggap kurang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, maka sampai saat ini penulis belum menenukan baik perseorangan maupun lembaga yang berusaha menangkarkannya.
Penulis memelihara burung ini satu ekor. Didapatkan sekitar tahun 2000 silam di pasar Manyaran, Wonogiri  Jawa Tengah dengan kondisi yang tidak terawat dengan baik. Beberapa bulan kemudian, banyak orang yang tertarik dengan burung tersebut. Disamping karena suaranya, juga karena sifatnya yang tidak terlalu liar. Mungkin karena dipelihara dari muda, sehingga puter lumut ini mampu menyesuaikan diri tinggal di kandang. Biasanya walaupun sudah dipelihara dalam kandang cukup lama, tetapi tetap sulit dijinakkan. Kebetulan puter yang dimiliki penulis berjenis kelamin jantan Selain makan makanan alaminya, burung ini juga senang makan voer.

Menyadari semakin menipisnya populasi burung ini, penulis tergerak untuk menangkarkan. Pencarian jodohpun dimulai. Hampir semua pasar burung dijelajahi, tetapi jodoh itu belum didapatkan. Akhirrnya, daripada pulang dengan tangan hampa lagi. Pada pencarian yang ke sekian puluhkalinya, iseng-iseng penulis membeli puter jawa betina dengan harga 20 ribu. Sesampai rumah langsung dimasukkan ke dalam satu kandang dengan puter lumut. Niat hati hanya sebagai teman bagi puter lumut. Selang beberapa hari, tanpa diduga kedua insan beda warna dan jenis itu berjodoh. Woww..betapa senangnya hati ini. Segera disiapkan ranting-ranting kecil di dalam kandang. Dari ranting yang disiapkan, mereka mulai unjal untuk membuat sarang di tempat yang sudah dipersiapkan. Akhirnya, dua telorpun dihasilkan. Dua minggu pasangan ini silih berganti mengerami telornya.   
Kini, dua pasang anak sudah dihasilkan. Warna bulu anak-anaknya lebih condong ke warna si jantan, tetapi dengan warna yang lebih muda. Pakan yang disediakan, selalu diusahakan seperti yang tersedia di alam. Seperti jewawut, milet, gabah, dan jagung. Dengan pakan tersebut diharapkan akan memperkuat tumbuhnya bulu. Kini keturunan yana pertama sudah mulai manggung. Suaranya unik. Kombinasi anatara kuk geruuuk kok dari si betina dengan kuk kruuuk kuk dari si jantan.  Ketika tulisan ini dibuat, pasangan burung tersebut sedang mengerami sepasang telor yang ketiga. Agar tidak mengganggu induknya, anak-anaknya dipisahkan di kandang lain.

Beberapa saat yang lalu, penulis berniat melepaskan keturunan mereka yang pertama  di alam bebas. Walaupun bukan puter lumut asli, paling tidak ada keturunan puter lumut yang manggung di alam bebas. Ketika keliling untuk melihat lokasi yang cocok untuk pelepasan burung tersebut, penulis berpapasan dengan sepasang pemuda masing-masing membawa senapan angin. Hati ini trenyuh melihat beberapa jenis burung sudah digantung di stang motor mereka. Terus, bagaimana nasib burung yang akan kulepas esok hari? Mampukah mereka bertahan di alam bebas?  Akhirnya, niat itu urung dilaksanakan. Tak rela rasanya mereka menjadi korban dari oarang-orang yang tak peduli lingkungan tersebut.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Fans-burung - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger